Membumikan Literasi di Bumi Sakti

Tampilkan postingan dengan label Guyon. Tampilkan semua postingan

Oleh: Nabhan Aiqani Penggiat Literasi di Kerinci Institute Prrtaakk.. prttakk ..tung ..tungg.. begitulah bunyi yang senantiasa...


Oleh: Nabhan Aiqani
Penggiat Literasi di Kerinci Institute

Prrtaakk.. prttakk ..tung ..tungg.. begitulah bunyi yang senantiasa mengiringi pagi di rumah ini. Ya sebuah rumah di sudut dusun yang masih sangat asri dan muram. Sekelilingnya banyak pepohonan berdaun lebat menunggu kapan akan tumbang, sementara ketika pandangan agak diarah ke sebelah utara, maka hamparan sawah tak kunjung bosan menghibur mata. Suara sahutan, mengajak menolehkan pandangan untuk mengintip siapa yang lewat di jalan kecil berbatu arah ke pendakian dusun. Benar saja.. disana tak sedikit Bapak-bapak dan Ibu-ibu yang sudah menyiapkan peralatan sembari menyusuri jalan dengan penuh pengharapan untuk bertempur mengais rupiah di hari yang masih diberikan Tuhan untuk dilalui.

“Nduukk,, kok kamu masih molor saja,” sergah ibu sambil berdiri didepan tempat tidur si kulup. “Bangun lagi sudah.. jangan kau turuti malasmu itu, kalau tidak seember air yang akan bertindak” kata ibu memberikan ultimatum yang diikuti sikap spontan si kulup untuk berubah dari posisi tertidur menjadi berdiri tegap dengan mata yang masih sayu.

Hari minggu memang selalu menjadi waktu yang menyenangkan untuk berleyeh-leyeh dirumah. Barangkali Tuhan memang sudah menakdirkan demikian. Jangankan untuk melangkah keluar rumah, untuk hanya sekadar beranjak dari kamar tidur ke kamar mandi saja si Kulup enggan melakukan. Tapi ibu tidak tinggal diam, ibu selalu punya jurus ampuh yang akan keluar kapan saja dibutuhkan, seolah sudah diatur sedemikian rupa. 

Dengan langkah gontai penuh kemalasan yang tak terbilang, si kulup berjalan terhuyung dari kamar tidur ke kamar mandi, mungkin langkah ini sama beratnya dengan berjalan didepan rumah mantan yang sudah menikah. Melihat tanda-tanda tindak mengenakkan, ibu langsung bertindak dengan sigap, dan jurus ampuh ibu pun keluar.

“Lup, ibu sedang memegang ember nih, air nya pun masih penuh,” teriak ibu dari luar sambil menyiram bunga ditaman kecil yang dibuat oleh almarhum Bapak si Kulup.
“ohh iya iya bu,, kulup bukannya sedang malas tapi memang kulup menikmati setiap langkah dari kamar tidur ke kamar mandi dengan penuh khusu’ dan kontemplasi ala filosof yunani yang keren itu bu”, “halahh apa pula bahasa kamu itu, lup. Ibu tidak mengerti, satu-satunya yang ibu pahami yaa ini, bahwa kehidupan harus berlanjut, dan jangan terlalu banyak sandiwara, kau tanam itu pula yang kau dapat. cukup” kali ini ibu menjawab dengan bijak sekali, pukulan telak yang tepat menghujam ulu hati si Kulup.

Berawal dari sinilah semua cerita di rumah di pinggir dusun ini bermula.

“Ibu ingatkan pada kau lup. Tidak usah kau terlalu berlagak dan bersikap tinggi hati pada orang lain. Hiduplah dengan sederhana dan apa adanya, jangan kau buat-buat, jangan pula kau tambah apalagi kau kurangi, cukup sesuai dengan takarannya saja. Ibu tidak ingin kita hidup dalam kepalsuan, penuh dengan tawa, tapi semu. Biarlah penuh derita yang penting apa yang diberoleh bukanlah hasil dari korupsi, penyelewengan atau pencurian yang hanya untuk menyenangkan hati sesaat, malah akan lebih banyak pula mudharatnya. Kau ingat juga lup, Ibu tidak ingin anak ibu berbicara sok bijak, kalimat-kalimatnya begitu melangit, sampai ibunya sendiri tidak paham. Cukup kau bicara dengan apa adanya, bicara dengan kata yang bahkan oleh orang tak berpendidikan sekalipun mengerti. Satu lagi lup, jangan pula kau terlalu banyak angan dan ingin, lagak para pejabat sana. Kau boleh punya cita-cita tinggi tapi niatkan cita-citamu itu untuk kebaikan, kebaikan dirimu, adik-adikmu, keluarga, bangsa dan negara begitupun dengan agama. Ibu tidak akan pernah menyesali keadaan keluarga kita yang penuh kekurangan sekarang ini, tapi ibu akan lebih menyesal ketika ibu tidak bisa membesarkan anak ibu dengan baik dan berguna.”

Kalimat ibu yang cukup panjang membuat hati kulup teriris, ia tersadar sejenak dan merenungkan setiap kata-kata ibu. Ia teringat ibu yang siang malam bekerja tanpa pamrih semenjak bapaknya meninggal, ia juga teringat ketiga orang adiknya yang masih sangat kecil namun mesti hidup dalam kekurangan dan kesusahan. Ia membulatkan tekad untuk berubah sedemikian rupa menjadi anak yang mampu membanggakan ibu.

Di kamar mandi sementara tangannya memegang gayung dengan air yang begitu dingin. Pikiran si kulup tiba-tiba tersentak, ia mengingat kembali suasana ketika ia melewati jalan di dusun yang dipenuh baliho dari calon pemimpin daerah. Banyak ragam, banyak macam, dan banyak pula janji yang terucap. 

Seketika ia teringat akan nasehat ibu barusan. Sambil bergumam sendiri, kulup berkata
.
“Apa yang istimewa dari tebaran baliho dan janji-janji yang tak jelas itu? Tidak tahukah mereka kalau seupil pun aku tidak terpengaruh”
“Sebab bagiku sosok pemimpin yang tidak pernah bepura-pura adalah seorang yang hidup dengan penuh ikhlas membesarkan anaknya sendirian tanpa didampingi oleh suami. Pagi-pagi sudah terbangun hanya untuk memastikan asap didapur tetap mengepul, agar aku dan adik-adikku tidak kelaparan. Sementara ketika matahari mulai beranjak siang, dia sudah bergumul dengan cangkul bermandikan debu dan tanah. Selalu menasehatiku tentang arti kehidupan dan kesederhana hidup walaupun sekali-kali agak cerewet. Nahh sosok pemimpin itu adalah Ibuku sendiri.” 

Si Kulup menyelesaikan mandinya dengan sumringah. Setelah berpakaian rapi dan gagah, Kulup berlari menghampiri ibu yang masih sibuk dengan urusan rumah yang belum selesai, dengan mata berkaca-kaca ia memeluk dan merangkul ibunya itu.





Oleh: Alek Kaka* Matahari mulai enyah dari ufuk timur. Sedang Mikel belum juga tidur. Banyak hal berputar-putar dipikirannya: Teti ...


Oleh: Alek Kaka*

Matahari mulai enyah dari ufuk timur. Sedang Mikel belum juga tidur. Banyak hal berputar-putar dipikirannya: Teti (pacarnya), skripsi, judi bola, serta pidato seorang tokoh pemuda di kampungnya yang tengah berusaha membangkitkan jiwa nasionalisme anak-anak muda Indonesia.

Rekaman pidato itu didapati Mikel dari sebuah layanan jejaring sosial yang berkantor pusat di Menlo Park, California, Amerika Serikat. Konon, pidato yang viral itu dibuat dalam rangka memperingati hari pahlawan. Waktu Mikel mengunduhnya, tertera view sudah 16K.

Tapi, di rumah kosan yang terdampar di Kelurahan Gunung Pangilun, Kecamatan Padang Utara, Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat itu, Mikel tetaplah Mikel, yang jiwa nasionalismenya susah bangkit.

“Apa perlu kutelpon Teti, Kel? Untuk membuat jiwa nasionalismemu bangkit lagi.” Kata saya pada Mikel.

“Tidak perlu Lek, aku tidak ingin mengganggunya.” jawab Mikel.

Akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke luar, mencari sesuatu yang bisa di makan. Jam di telepon genggam menunjukkan pukul 06.00.

Kami sengaja tidak bawa motor. Udara pagi terlalu sayang bila diterban asap kendaraan. Dan lagi pula, seperti kata seorang penyair, adakah yang lebih puitis dari gesekan sandal ke aspal oleh laki-laki mencari sarapan pagi?

Namun jam segini, di Gunung Pangilun, bukan perkara mudah mencari warung makan yang buka. Untung ada satu yang nampak, dan jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah kosan Mikel, yaitu penjual nasi uduk. Tidak ada pilihan lain.

Penjual nasi uduk itu namanya Supratman, dan satu lagi Marsaid. Yang satu dari Solo, yang satu lagi dari Cilacap. Mikel dari Dharmasraya dan Saya dari Maluku Timur. Supratman dan Marsaid merantau dari daerahnya untuk mengadu nasib dengan menjual nasi uduk. Mikel dan Saya merantau pula dari daerah kami masing-masing demi makan nasi uduk Supratman dan Marsaid. Sepertinya, lima puluh ribu tahun yang lalu, Tuhan telah menulis dalam Buku Takdir Manusia bahwa kami akan berjumpa pada suatu pagi di suatu tempat di belahan Sumatera, untuk urusan nasi uduk.

Saya bertanya kepada Mas Supratman, perihal nasi uduk. “Mas, uduk ini apa sih artinya?” tanya saya.

“Uduk itu berasal dari bahasa Sunda, yang artinya bersatu atau bercampur.” sahut Mas Supratman.

“Wahh, makna yang nasionalis sekali, Mas!” jawab saya lagi. “Atau jangan-jangan para pemuda yang ikut Kongres Pemuda puluhan tahun silam, juga doyan Nasi Uduk.”

Si Mas penjual Nasi Uduk menanggapi saya dengan nyengir.

Nasi uduk memang nasi yang dicampur dengan menu lain. Bahan dasarnya nasi putih yang diaron dan dikukus dengan santan dari kelapa yang di parut. Serta dibumbui dengan pala, kayu manis, jahe, daun serai dan merica.

Makanan ini kemudian dihidangkan dengan empin goreng, tahu goreng, telur dadar atau telur goreng yang sudah diiris-iris, abon, kering tempe, bawang goreng, ayam goreng, timun, dan sambal dari kacang.Rasanya gurih dan enak. Penamaannya oleh orang dulu sederhana saja, uduk, tidak serumit orang zaman now menamai makanan.

Saya pernah lihat menu di sebuah restoran yang demi menyebutnya kita mesti mengeluarkan energi yang sama dengan memakannya. Padalah sebernarnya makanan lokal.

Ada namanya Diced Beef Black Soup di menu, ternyata pas dihidang: Rawon. Ada Glutenous Rice, kiranya Lemper. Ada Sunny Side Up Egg, ternyata Telur Ceplok. Ada Indonesian Fried Meal, Consisting of Vegetables and Batter, ehh ternyata Bakwan.

Saya heran saja untuk makanan lokal yang sederhana itu kok di Inggris-Inggris kan segala. Atau barangkali demi menarik perhatian orang luar.

Kenapa tidak mereka saja yang mempelajari bahasa kita? Jadi sebenarnya yang menarik dari suatu makanan itu apakah dari namanya atau rasanya?

Ingin saya tanya ke Mikel, tapi urung saya lakukan. Saya tidak ingin jiwa nasionalisme Mikel makin redup, alih-alih dapat pencerahan. 

*Cerita ini pernah diterbitkan sebelumnya di blog pribadi penulis https://lexo-graphy.blogspot.co.id

www.konfrontasi.com Oleh: Nabhan Aiqani (Bukan Siapa-Siapa) Pagi itu, sama seperti pagi-pagi biasanya, semua berjalan serba dina...

www.konfrontasi.com

Oleh: Nabhan Aiqani
(Bukan Siapa-Siapa)

Pagi itu, sama seperti pagi-pagi biasanya, semua berjalan serba dinamis. Angin berhembus pelan dan cahaya mentari pagi yang menghangatkan perlahan menyinsing. Tidak ada yang terlalu istimewa. Sampai ketika dua orang yang boleh dibilang berperawakan bapak-bapak berpapasan, dan seketika itu juga mengajak salah satu dari mereka untuk duduk di beranda warung kopi. Tanpa banyak cincong, mereka pun langsung berjalan ke warung kopi terdekat.

Yaa.. lazimnya di warung kopi, memesan secangkir kopi hitam pekat dengan sedikit gula adalah tradisi yang wajib bagi bapak Sukab, begitupun dengan kawannya yang satu lagi, tapi berbeda dengan bapak Sukab, dia meminta agar kopinya dibuat setengah gelas saja.

Sambil mengeluarkan sebungkus rokok yang bungkusannya sudah terlipat-lipat akibat ditaruh disaku belakang berhari-hari, mereka pun mulai bercuap-cuap. Mulai dari perkara jokowi sampai dengan Maya janda yang tinggal sendirian di desa itu, dan terakhir soal Pilkada.

Memang benar kata pepatah, “life begins after coffee”, hidup dimulai setelah ngopi. Buktinya, sembari menyeruput kopi, tak terasa sudah berapa banyak kata-kata yang muncul, ada sanjungan, pujian bahkan makian pun tak luput terucap. Indah memang, apalagi semilir angin menambah khidmatnya suasana warung kopi yang memang terletak di sekitaran hamparan sawah.

“Saya tidak ingin memilih si Anu,” teriak Bapak Anu dari belakang yang seketika mengejutkan dua berkawan ini.

“Mengapa ?,” kata sukab menimpali.

Lantas dimulailah kuliah warung kopi sepanjang 6 sks, yaa..hampir sama dengan skripsi barangkali (:-D)

Bapak anu mulai mengambil ancang-ancang. Sehabis memesan kopi pahit dan goreng ubi, ia mulai ngoceh sana sini. Sementara dua berkawan itu masyuk mendengarkan ocehan beliau, dan sesekali menimpali, bila ada maksud yang tidak dimengerti atau tidak disetujui.

“Jadi begini anak muda, kalian lihat daerah kita ini. Banyak sekali mereka yang jualan tampang, menyapa kesana kemari, namun hilang seketika ketika sudah jadi. Lihat baliho-baliho besar itu, hanya membuat sakit mata saja. Kemaren, sewaktu belum jadi, mereka janjikan ini, mereka janjikan itu, tapi setelah itu apa. (sumpah serapah meluncur deras dari mulut si Bapak anu).

Kalian lihat juga disana kan, ada sawah-sawah dan ladang begitupun akses jalan, bagaimana kondisinya, memprihatinkan sekali, wajar saja desa kami sekarang sepi, sebab desa sudah tidak menjanjikan, penduduk pada lari semua ke kota. (tiba-tiba bapak ini mengutip perkataan bung Hatta) mana itu slogan membangun dari desa? Saya sangat khawatir melihat nasib-nasib sungai, sawah dan ladang yang saban hari, semakin ditinggalkan… Kalian tidak dengar yaa, berita di desa sebelah? satu persatu investor masuk dan mulai merampas tanah yang ditinggalkan, sementara warga kampung tak berdaya menuntut apa-apa. Mau mengadu ke kepala daerah, yaa sama tahu lah.. ke dewannya pun kami sudah patah arang duluan. Jadi hidup mereka seolah dibunuh secara perlahan.

Naahhh.. tidak lama lagi desa kami ini pun juga akan menjadi sasaran. Hanya karena momen Pilkada isu ini dapat diredam. Kami sebagai warga desa tidak tahu harus mengapa? Tingkat pendidikan yang minim, ditambah dengan banyaknya mereka yang menjual kepentingan kelompok demi keuntungan pribadi, tidak jelas lagi alur dan kepatutan, semua saling mencurigai. Padahal desa ini dulu sangat tenteram, beberapa kali kami menjadi pusat percontohan bagi desa lain,baik dalam hal pertanian, maupun peternakan.

“Sekarang kalian lihat lagi bukan, bagaimana ramainya desa kami, bukan karena desa kembali semarak oleh penduduk yang kembali pulang, tapi karena momen Pilkada. Semua obral janji seolah paling merakyat, tapi jangankan tahu dengan kondisi riil kami sekarang ini, mungkin kalau ditanya apa yang kami butuhkan mereka tidak ada yang tahu. Yang pasti jawaban klise yang akan didapatkan, seperti Pilkada sebelumnya, bahwa kami akan dibangunkan jalan, dibantu pupuk murah, dan pasar untuk menjual hasil bumi kami. Tapi sampai sekarang janji itu masih lah diawang-awang tidak pernah benar-benar terwujud”

Mengakhiri ocehannya Bapak Anu mengatakan kepada kami.

“Jadi pada Pilkada nanti kalian akan memilih siapa?”

Si Sukab menjawab, “Mending jangan memilih, pak”

“Lah emangnya kenapa?” Tanya bapak lagi.

“Kan sudah Bapak beberkan panjang lebar soal Pilkada tadi, dan bagaimana bukti dari janji-janji kampanye mereka, kalau menurut saya sebaiknya jangan memilih, mending bapak ajak warga desa golput, sebagai bentuk protes” sukab menimpali.

“Kalau gitu nanti kami malah tidak diperhatikan”

“Memilih ataupun tidak memilih pun akan tetap sama, bukannya desa bapak sudah dari dahulu tidak diperhatikan” Kali ini Sukab menjawab dengan bijak.

“Lantas, kalian berdua mau memilih siapa nanti ?”

“Maaf pak, cerita bapak tadi sangat luar biasa sekali, tapi tetap saja jangan memilih”

“Kok jangan memilih”

“Maksudnya kami yang jangan memilih, karena kami bukan warga daerah sini, kami pun tak punya KTP sini, barangkali juga tak terdaftar di DPT, jadi yaa.. gimana kami mau memilih, pak?”

Akhirnya semua tertawa terbahak-bahak seolah melupakan keluhan Bapak yang panjang tadi.




www.babatpost.com Oleh: Nabhan Aiqani Penikmat Teh Kayu Aro Saya adalah seorang yang senantiasa mengusahakan untuk menerapkan la...

www.babatpost.com

Oleh: Nabhan Aiqani
Penikmat Teh Kayu Aro

Saya adalah seorang yang senantiasa mengusahakan untuk menerapkan laku adil dalam kehidupan. Sebab, bila untuk berlaku adil pun susah lantas kebaikan apa yang tertinggal bagi  dunia yang semakin millennial dan sedikit-sedikit boikot ini *ehh.

Adil sejak dalam pikiran, begitulah Pram menyebutnya. Benar, Pram lebih revolusioner, sebelum laku terjadi, maka adillah semenjak dalam diri. Kadangkala berlaku adil hanya terbatas pada retorika indah sahaja. Keadilan bagi miskin adalah barang yang langka, sementara si kaya bebas mengobral keadilan untuk diri dan kelompok mereka semaunya. Itulah fakta memuakkan di negeri para bedebah ini.. (mengutip akhi tere liye).

Tapi tunggu dulu, sebelum wara-wiri lebih jauh. Ada satu lagi tuntunan mengapa laku adil perlu dan wajib bagi kaum muslim serta beriman. Anjuran agama sudah secara jelas menyebut, “janganlah kebencian terhadap suatu kaum, menghalangimu untuk berlaku adil”, bahkan kepada Setya Novanto sekalipun.

Nahh.. disini poin pentingnya. Walaupun saya juga agak kurang suka (re: benci) pada pola tingkah Papa Setnov namun alangkah baiknya kita menempatkan sesuatu secara adil dan berimbang, kalau bisa semenjak dalam pikiran. Itung-itung menjalankan perintah agama juga.

Mbok , ya gini,,anda mesti coba menerapkan perintah agama yang membuat kecamuk dalam hati sebelum melakukan, jangan hanya menjalankan perintah agama yang mau senang-senangnya saja. Bayangkan bila anda sampai pada tahap sanggup untuk “memaafkan orang yang anda benci”, barangkali anda akan dikenang sebagai Pahlawan zaman now.

Kembali pada Papa Setnov.
Papa Setnov memang tengah diburu akhir-akhir ini. Beliau menjadi tokoh antagonis yang memancing huru-hara dan hinaan (sebenarnya memang pantas sihh). Meme tentang beliau berseliweran di media sosial, tapi hati-hati ketauan, entar diciduk loo. Kan gak keren, masa gara-gara meme ditahan. Kurang progresif gitu lah kesannya.

Sepak terjang Papa Setnov bisa dibilang unik dan licin. Berkali-kali dijerat kasus, berkali-kali pula beliau mampu melepaskan diri. Upaya terakhir untuk menahan beliau pun kandas, setelah praperadilan memenangkan beliau. Skenario baru pun disusun KPK, dengan kembali menetapkan beliau sebagai tersangka. Kabar terbaru, beliau kembali sakit (kayak dulu, mungkin pakai selang juga), dan disinyalir KPK mengambil langkah tegas untuk menjemput langsung ke rumah beliau. Tak salah menyebut kesaktian Papa Setnov tidak ada tandingannya di Negara ini. Akibat ulahnya yang satu orang, seisi Negara dibuat kelabakan.

Karena sudah terlalu banyak yang kurang suka (re:benci) pada Papa Setnov, barangkali atas alasan berlaku adil tadi, penulis ingin mengungkap sisi protagonis, sisi baik dari Papa Setnov.

Kita mulai saja dari menyorot prestasi beliau selama ini. Tidak mungkin kan, tidak ada kebaikan dalam diri beliau, bahkan sosok Fir’aun yang terkenal sombong sampai-sampai menuhankan diri, pada akhir menjelang ajal menjemput, masih sempat ingat Tuhan.

Mari kita ulas, apa saja prestasi individu beliau semenjak abege sampai sekarang ini.
Sebagaimana dikutip dari IDN Times, penulis menemukan beberapa prestasi Papa Setnov yang sebenarnya patut dibanggakan namun luput dari perhatian publik. Pertama, Raih banyak penghargaan, dilansir Wikipedia, disebutkan Setya Novanto memiliki berbagai penghargaan yang diraihnya pada tahun 90an.  Beberapa penghargaan tersebut diantranya Indonesia Culture Award on ASEAN Program (1993), Indonesian Best Dressed Award (1993), ASEAN Entreprenuer Award (1993), Indonesian Culture Award on ASEAN Program (1994), dan Indonesian Year Books (1998).

Kedua, Pernah jadi model dan dinobatkan sebagai Pria Tampan Surabaya.. Luar biasa bukan, pria tertampan Surabaya loo, nah kamu.. wajar jomblo.

Ketiga, Negoisator Ulung, koleganya di DPR, Dadang Rusdiana memuji Setnov untuk urusan lobi. Menurut Sekretaris Fraksi Hanura, sebagaimana diberitakan kompas.com, menyebut Setnov terlahir sebagai pelobi ulung, terutama ketika berhadapan dengan kalangan eksekutif. Tak hanya itu, bakat Setnov dalam urusan lobi melobi dan bernegoisasi telah menonjol sejak dirinya muda. Bahkan saat ia menjadi salesman Suzuki untuk Indonesia Bagian Timur, dia berhasil menjabat sebagai Kepala Penjualan Mobil untuk wilayah Indonesia Bagian Timur di usianya yang baru 22 tahun. Prestasi yang patut dibanggakan, bukan?

Lantas, selama menjabat sebagai Ketua DPR prestasi beliau apa, bang ? “Tanya anak kecil di sebelah saya”.

Nun jauh di urutan belakang meja paripurna DPR, Adian Napitupulu berteriak “"Tidak ada prestasinya.” (saya harap ini bisa mejadi jawabannya, dik)


Sungguh penulis sudah berusaha adil, tapi maafkan Tuhan bila tidak diketemukan satu pun prestasi membanggakan beliau sebagai perwakilan dari rakyat selama menjabat Ketua Dewan yang terhormat ini.