Membumikan Literasi di Bumi Sakti

Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

  Oleh: Wahyu Hidayat Penulis adalah mahasiswa Prodi Ilmu Kepemerintahan Fisipol Universitas Jambi dan anggota aktif Ikatan Mahas...


 Oleh: Wahyu Hidayat
Penulis adalah mahasiswa Prodi Ilmu Kepemerintahan Fisipol Universitas Jambi dan anggota aktif Ikatan Mahasiswa Kerinci Sungai Penuh Jambi (IMKS-JAMBI).

Provinsi Jambi merupakan Provinsi yang mempunyai potensi dalam hal wisata, mulai Gunung kerinci sampai ke candi muaro jambi, acapkali wisata merupakan sektor unggulan dari pendapatan asli daerah (PAD).
Provinsi Jambi terdiri dari beberapa wilayah kabupaten/kota, dan ada salah satu kabupaten yang  memiliki ciri khusus yaitu kabupaten Kerinci yang sering disebut dengan negeri wisatanya provinsi Jambi. Selama ini masyarakat hanya tau kerinci sebagian kecilnya saja, mereka hanya kenal dengan Gunung kerinci, danau kerinci, danau gunung tujuh, kebun teh kayu aro, dan air terjun telun berasap. Akan tetapi ada satu objek wisata yang mungkin terdengar asing dari kuping kita selama ini yaitu “Air Panas Semurup” atau dalam bahasa kerinci disebut dengan “Gao”.
Air panas semurup merupakan objek wisata yang terletak di 11 kilometer dari pusat kota (sungai penuh) yang juga dapat ditempuh 8-10 jam dari pusat kota jambi. Wisata ini terletak dikawasan perumahan warga tepatnya di desa baru Air Hangat kecamatan Air Hangat Barat Kabupeten kerinci. Kawasan wisata ini merupakan kawasan wisata unggulan d kabupaten Kerinci, hampir setiap hari wisata Air panas didatangi oleh wisatawan baik lokal mapun mancanegara. Wisata air panas ini merupakan sumber air panas yang bersaal dari kawah gunnug kerinci, menurut pantauan masyarakat setempat sumber air panas ini pertama kali muncul ribuan tahun yang lalu, dan sampai saat ini belum ada yang tahu mengenai misteri munculnya air panas tersebut.
Air panas semurup ini yang berupa kolam memiliki luas 15 meter persegi dengan kedalaman kurang lebih 5 meter yang memiki tekstur warna kebiruan dan air nya yang sangat tentu panas yang memliki suhu 80 derajat celcius. Dahulunya air panas ini memiliki suhu sampai dengan 100 derajatcelcius, namun walaupun sekarang hanya 80 derajat celcius tetapi wiasata ini sangat mengagumkan dan sangat mengagumkan ketika kita bisa merasakan dan melihat ada titik air seoanas ini di dataran yang memliki tinggi 800 mdpl.
Air panas ini juga sangat menarik untuk dikunjungi karena kawasn ini dijaga dan dilestarikan dengan keamanan yang baik, karena capkali wisata air panas ini kerap menjadi tempat untuk bunuh diri, dari kejadian seperti itu pemerintah dalam hal ini masyarakat yang mengelola kawasan wisata ini sangat-sangat menjaga pintu masuk bahkan area kolam air panas itu diberi agar yang ketat agar masyarakat tak bisa masuk dengan mudah.
Wisata ini merupakan tempat yang sangat nyaman jika masyarakat ingi n santai dan menennagkan diri, selain dengan wisatanya yang menarik, masyarakat atau pengunjung juga bisa merebus telur dan pisang secara langsung di kola air panas tersebut. Selain dari kulinerya kawasan wisata ini juga digunakan masyarakat sebagai tempat untuk mandi, karena dikawasan wisata ini terdapat tempat pemandian khusus untuk masyarakat pengunjung maupun setempat.
Terlepas dari keindahan dan kecantikan air panas tersebut, ada sebuah misteri mitos yang selama ini menghantui dan membuat geregetan masyarakat kabupaten kerinci, terutama masyarakat sekitar daerah air panas. Bagaian tidak setiap tahunnya air pans tersebut selalu memakan korban.
Keganasan air panas tersebut menajdi teka-teki masyarakat selama ini, apakah memang air panas ini setiap tahunnya wajib ada korban yang meninggal. Berbagai kejadian yang terjadi kasus bunuh diri yang terjadi di air panas.
Menurut mitos masyarakat setempat kejadian  bunuh diri dengan cara menyobloskan diri k sumber air panas ini memnag tiap tahunnya selalu ada. Menurut mitos dari mulut ke mulut bahwa jangan pernah sesekali berbicara akan menyobloskan diri ke air panas walaupun itu nada becanda. Karena, sewaktu-waktu air panas teresebut akan memanggil secara tidak sadar. Kebnaykan dari korban tumbal air panas ialah masyarakat yang bukan dari daerah sekitar air panas.
Itulah mengapa pihak pengelola wisata saat ini mempagari air panas tersebut dengan pagar yang sagat tinggi erta penjagaan yang sangat ketat, dengan tujuan untuk menghindari masyarakat yang berniat bunuh diri di air panas semurup tersebut.
Dibalik keindahan dan kecantikan wisata air panas semurup ternyata terdapat sebuah mitos masyarakat setempat, yaitunya mitos tentang setiap tahunnya  air panas semurup yang selalu meminta tumbal. Hal yang selalu dihubung-hubungkan dengan peristiwa bunuh diri yang hampir terjadi setiap tahun di air panas semurup.


kajanglako.com Oleh: Uun Lionar  Awardee Beasiswa LPDP Prodi Pendidikan Sejarah Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandun...



kajanglako.com

Oleh: Uun Lionar 
Awardee Beasiswa LPDP Prodi Pendidikan Sejarah Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung

Jika dalam sejarah Sumatra Barat kita pernah mendengar nama Tuanku Imam Bonjol yang sangat melegenda atas perjuangannya melawan Belanda, maka dalam sejarah Kerinci kita mengenal nama Depati Parbo sebagai tokoh sentral menentang kekuasaan Belanda tersebut. Bukan sesuatu yang berlebihan jika Depati Parbo juga pantas disejajarkan dengan pahlawan perang lainnya di Nusantara, walau pada akhirnya harus mengalami kekelahan dan pengasingan ke Ternate setidaknya ia telah menunjukkan sikap antikolonial dan peletak pondasi awal nasionalisme rakyat Kerinci ketika itu. Bagi orang Kerinci barangkali sudah tidak asing lagi mendengar nama Depati Parbo. Ia adalah pahlawan perang Kerinci di tahun 1901.

Nama Depati Parbo adalah sebuah gelar yang diberikan untuk seseorang yang bernama Kasib. Depati adalah gelar adat tertinggi dalam sebuah dusun (nagari di Minangkabau) bagi seorang pemimpin di Kerinci. Kasib dilahirkan di kaki Gunung Raya, tepatnya di Dusun Lolo, Kerinci, sekitar tahun 1839. Sejak kecil ia dikenal oleh rakyat Dusun Lolo sebagai pribadi yang bijaksana dan taat beribadah, selain itu juga patuh dalam belajar pengetahuan tentang adat, bahkan menurut cerita rakyat Dusun Lolo bahwa Kasib sejak usia remaja sudah memiliki berbagai kesaktian (ilmu kebatinan) dalam mengobati berbagai penyakit. Memasuki usia remaja, Kasib dinobatkan sebagai pemangku adat oleh rakyat Dusun Lolo dan kemudian diberi gelar Depati Parbo, gelar yang diwariskan secara turun temurun menurut garis keturunan ibu (matrilineal).
Menyandang sebagai pemimpin adat mengharuskan Depati Parbo berperan sebagai pelindung kalbu (keluarga besar), dan dusun (nagari), serta rakyat Dusun Lolo pada umumnya dari segala macam ancaman, tidak terkecuali ancaman dari pihak luar bahkan asing sekalipun.

Pada dekade terakhir abad ke 19, Kerinci adalah daerah yang cukup tentram dan damai. Rakyatnya hidup dari hasil alam yang berlimpah seperti beras dan sayur-sayuran segar, danau Kerinci yang terhampar luas mencukupi kebutuhan lauk pauh rakyat. Memasuki awal abad ke 20 (1900), kabar mengenai perang rakyat Aceh menghadapi Belanda yang berlarut sejak tahun 1870 tersiar hingga ke Kerinci menyebabkan daerah ini harus bersiap jikalau suatu saat ancaman dari Belanda datang ke Kerinci, mengingat saat itu Belanda telah bercokol di Indrapura (Sumatra Barat). Keberadaan Belanda di Indrapura sudah sejak tahun 1666. Setelah dataran tinggi Minangkabau (Padangsche Bovenlanden)ditakhlukkan melalui perang Paderi yang dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol pada tahun 1821 hingga 1837, di tahun 1901 Belanda mencoba menguasai Kerinci yang terkenal sebagai lumbung beras di kawasan sumatra bagian tengah. Kedatangan Belanda pertama kali ke Kerinci melalui Mukomuko disambut oleh rakyat Kerinci terutama Dusun Lolo yang dipimpin langsung oleh Depati Parbo dengan peperangan yang amat sengit. Peperangan ini berhasil membuat Belanda mundur. Beberapa kali Belanda berusaha untuk masuk ke Kerinci selalu dicegat oleh Depati Parbo dan hulu balangnya di lereng Gunung Raya (perbatasan dengan Bengkulu).


Sebagai panglima perang Depati Parbo menyerukan rakyat Kerinci untuk ikut berperang melawan kedatangan Belanda. Seperti halnya Tuanku Imam Bonjol ketika perang Paderi berlangsung, ia menyerukan rakyat Minangkabau untuk melawan Belanda karena mereka adalah kaum kafir yang ingin menguasai daerah Minangkabau. Seruan yang sama disampaikan Depati Parbo ketika perang Kerinci, “bahwa pasukan Belanda adalah orang-orang kafir, orang-orang kafir adalah musuh bersama kita, oleh sebab itu mereka harus diperangi. Jangan sampai mereka menguasai daerah kita, lalu berbuat semena-mena terhadap kita”. Seruan Depati Parbo lantas disambut rakyat Kerinci dengan penuh semangat untuk segera ikut menentang kedatangan Belanda. Mensiasati langkah perang menghadapi Belanda, Depati Parbo mengumpulkan semua hulu balang Kerinci. Mereka berkumpul di sebuah masjid dekat Dusun Pulau Tengah tepian danau Kerinci untuk menyepakati strategi perang. Dalam pertemuan seruan kembali diserukan Depati Parbo “bahwa perang melawan Belanda adalah perang jihad, walau meninggal dunia sekalipun kita meninggal dalam keadaan mati sahid”. Dalam pertemuan tersebut disepakatilah tidak ada yang boleh mundur walau terkena tusukan senjata sekalipun.

Seruan jihad yang disampaikan Depati Parbo ternyata benar-benar berdampak dalam semangat ketika perang berlangsung. Walau pada akhirnya harus menghadapi kekalahan, para hulu balang Kerinci rela mengorbankan jiwa raganya untuk kemerdekaan rakyat Kerinci. Namun karena mereka menggunakan alat senjata yang tradisional, sedangkan Belanda menggunakan alat senjata modern pada akhirnya kemenangan didapatkan oleh Belanda. Banyak para hulu balang yang mati syahid, termasuk salah satu ulama Haji Ismail yang terjebak dalam masjid ketika sedang melaksanakan shalat. Dalam tulisan berjudul “De Expeditie Naar Korintji in 1902-1903; Imperialisme of Ethische Politiek”, H. J Van der Tholen mengatakan bahwa dalam Perang Kerinci telah tewas enam orang pasukan Belanda (diantaranya 3 orang Perwira), 40 orang luka-luka berat dan ringan.


Perang yang berkobar selama 3 tahun (1901-1903) mengharuskan Depati Parbo bertahan untuk mempersiapkan strategi melawan Belanda, namun karena terdesak dan mendengar kabar bahwa banyak hulu balang yang gugur, mengharuskan Depati Parbo bergerak melawan dengan senjata seadanya. Saat perlawanan itulah Depati Parbo berhasil ditangkap Belanda, dan perlahan perang pun meredup dengan kemenangan di pihak Belanda. Sama halnya seperti Tuanku Imam Bonjol, diasingkan Belanda ke Menado pasca Perang Paderi, Depati Parbo kemudian diasingkan Belanda ke Ternate, tetapi berbeda dengan Tuanku Imam Bonjol yang wafat dalam pengasingan, Depati Parbo beruntung mendapat hukuman selama 25 tahun, dalam pengasingan Depati Parbo memperoleh pengampunan dari Ratu Belanda, dan diperboleh kembali ke Kerinci. Berbagai sumber mengatakan Depati Parbo memperoleh pengampunan berkat ilmu kebatinan yang dimilikinya, ia mampu menyembuhkan anak seorang Asisten Residen Belanda, dan atas tanda balas budi Asisten Residen kepada Depati Parbo, ia dibebaskan dan dipulangkan ke Kerinci.

Sebagai bentuk penghargaan rakyat Kerinci terhadap perjuangan Depati Parbo dalam melawan penjajah Belanda, nama Depati Parbo disematkan sebagai nama bandar udara di Kerinci, yakni Bandar Udara Depati Parbo. Selain itu, sebuah perguruan tinggi swasta yakni Akademik Manajemen Ilmu Komunikasi (AMIK) juga menyamatkan nama Depati Parbo sebagai nama institusi tersebut. Sebagai warga negara yang hidup di alam kemerdekaan, sudah sepantasnya kita memberi penghargaan terhadap pahlawan-pahlawan bangsa, dengan kembali mempelajari perjuangan mereka, mengambil nilai-nilai positif dari perjuangannya adalah salah satu bentuk dari penghargaan terhadap pahlawan bangsa.



tribunnews.com Oleh: Uun Lionar* ( Mahasiswa Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung Penerima Beasiswa Pendidikan...


tribunnews.com
Oleh: Uun Lionar*
(Mahasiswa Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung
Penerima Beasiswa Pendidikan Indonesia LPDP Kementerian Keuangan RI)
 “Aksara Incung adalah jenis aksara kuno asli milik masyarakat Kerinci, Jambi”, ungkap Uli Kozok (2006), ilmuan Filologi Universitas Hawai dalam karya fenomenalnya Kitab Undang Undang Tanjung Tanah (naskah Melayu yang tertua). Dalam artikel itu, Kozok dengan tegas menjelaskan bahwa aksara Incung telah berkembang di dataran tinggi Jambi atau wilayah yang disebut sebagai Ulu (dataran tinggi) sebelum Islam masuk ke wilayah ini. Menariknya, ia juga memaparkan perbedaan aksara Incung dengan beberapa aksara kuno yang berkembang di wilayah Sumatera bagian Selatan, seperti aksara Rencong di Rejang Lebong, dan aksara Lampung. Selain itu, Kozok juga menitipkan pertanyaan mengapa daerah Minangkabau tidak memiliki aksara kuno tersebut?.
Menyoroti keberadaan aksara Incung atau yang juga disebut Incung Kerinci akan membawa kita untuk membayangkan bagaimana peradaban nenek moyang zaman dahulu telah membangun simbol-simbol identitas kolektif, yakni identitas sebagai sebuah etnisitas yang mendiami dataran tinggi Jambi, simbol tersebut juga merepresentasikan wujud dari local jenius yang dimiliki oleh komunitas masyarakat Suku Kerinci. Atas local jenius itu sudah sewajarnya generasi saat ini menempatkan penghargaan dari capaian masa lalu dalam bentuk usaha melestarikan aksara Incung tersebut dengan mempelajari dan mewariskannya agar tidak punah termakan usia.
Adalah Voorhoeve seorang Taalambtenar (pegawai bahasa Hindia Belanda) untuk wilayah Sumatra di tahun 1941 telah mengalihaksarakan teks-teks kuno bertuliskan aksara Incung yang disimpan oleh banyak ke-depati-an di Kerinci. Voorhoeve menyebutkan bahwa aksara Incungbanyak tertulis di tanduk kerbau, tulang, kulit kayu, dan bambu. Selain aksara Incung, ia juga menemukan aksara Melayu dan Jawa Kuno yang kebanyakan ditulis di atas daun lontar dan kertas lama (daluang). Berbeda dengan aksara Incung yang banyak menerangkan tentang silsilah turunan dan ratapan seseorang, teks aksara Melayu dan Jawa Kuno berisikan tentang banyak perjanjian antar ke-depati-an di Kerinci serta surat dari Kerajaan Jambi dan Inderapura, mengingat Kerinci pernah berhubungan dengan dua kerajaan ini.
Pendidikan dan Pewarisan
Beberapa tahun belakangan ini telah muncul banyak komunitas pemerhati dan pecinta aksara Incung, geliat ini ditunjukkan dengan adanya usaha serius dari komunitas Sekolah Incung yang baru-baru ini mengadakan pelatihan bagi anak muda untuk belajar mengenal dan membaca aksara Incung. Usaha tersebut patut diberikan apresiasi bagi para penggeraknya, mengingat di arus globalisasi yang pada kecenderungannya mengalihkan pandangan untuk mengabaikan warisan lokal, ternyata masih ada anak muda yang berupaya mengenalkan warisan leluhur tersebut. Akan tetapi usaha yang telah diawali seketika tidak menunjukkan kemajuan, bahkan mengalami stagnasi hingga kini, hal ini sudah barang tentu menunjukkan kendala-kendala teknis atas pelaksanaannya yang berkenaan dengan dukungan moril dan material yang kurang memadai.
Jika dikritisi lebih dalam pada hakikatnya aksara Incung sebagai cagar budaya non-benda seharusnya dikelola oleh pemerintah dengan segala macam upaya strategis, namun hingga saat ini tidak begitu nampak usaha yang serius dilakukan oleh instansi terkait -Dinas Pariwisata- untuk mengusahakan “membumikan” aksara Incung tersebut, terutama di Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh. Alih-alih sebagai gerakan peduli Incung, selama ini upaya yang baru dilakukan pemerintah daerah sebatas pada menyertakan tulisan Incung pada nama-nama jalan dan nama instansi di Kota Sungai Penuh. Langkah-langkah strategis yang bersentuhan dengan dunia pendidikan baru sebatas wacana yang hingga saat ini belum ada realisasi yang jelas, oleh sebab itu penting kirannya aksara Incung dimasukkan dalam materi pembelajaran terutama pada mata pelajaran yang berkaitan dengan muatan lokal dan sejarah.
Menanti Gerakan
Diamond dalam The World until Yesterday (2017) telah melakukan penelitian di berbagai pelosok dunia untuk mengamati warisan leluhur komunitas masyarakat tradisional, hingga ia berkesimpulan penting bagi masyarakat modern kembali mempelajari warisan leluhur mereka, karena akan memperkuat identitas dan jati diri mereka sebagai entitas lokal. Saat ini keberadaan aksara Incung hanya tampak pada ukiran batik khas Kerinci, selebihnya diusahakan secara mandiri oleh mereka yang masih peduli akan eksistensi aksara tersebut, seperti budayawan dan seniman asal Kerinci dan Kota Sungai Penuh.
Sebagai pemangku kebijakan, pemerintah daerah sudah seharusnya merumuskan langkah strategis untuk pelestarian aksara Incung tersebut, mengingat di arus globalisasi ini warisan lokal semakin terabaikan atas dominasi pengaruh budaya modern yang datang dari luar, sehingga hal tersebut sedikit banyak telah memudarkan identitas kelokalan sebagai jati diri Suku Kerinci.
Langkah strategis dapat berupa memberdayakan komunitas pemerhati Incung sebagai stake holder dengan memberikan perhatian berupa dukungan fasilitas dan anggaran. Selain itu, langkah strategis yang lebih penting adalah menyertakan aksara Incung dalam pendidikan formal di sekolah-sekolah, mengingat Kurikulum 2013 dengan orientasi desentralisasi pendidikan telah memberikan peluang untuk pengembangan konten lokal.
Saat ini amat dinanti gerakan pemerintah dalam usaha-usaha tersebut, karena selama ini pada kenyataannya orientasi yang ditunjukkan oleh pemerintah baru pada pembangunan fisik (infrastruktur) dalam rangka melegalkan keberadaan mereka sebagai pelayan publik, tetapi belum menyentuh hal lain yang berkenaan dengan pelestarian nilai budaya. Dengan keseimbangan pembangunan antara fisik dan non-fisik (termasuk pelestarian aksara Incung) akan meneguhkan keberadaan pemerintah sebagai pemelihara warisan budaya. Semoga. (***)


http://wallpaperswide.com Oleh: Wahyu Hidayat Penulis adalah mahasiswa anti perjodohan, karena perjodohan adalah sumber utama k...


http://wallpaperswide.com

Oleh: Wahyu Hidayat

Penulis adalah mahasiswa anti perjodohan, karena perjodohan adalah sumber utama kesengsaraan cinta :D

Berbicara tentang cinta, tentunya akan sangat menarik apalagi berbicara tentang kisah cinta. Berbagai macam kisah cinta yang tersebar ke penjuru dunia remaja kemudian menjadi inspirasi untuk anak muda dalam dunia percintaan. Memang cinta adalah topik utama dalam dunia remaja, bagaimana tidak doktrin tentang cinta berhasil menjanjikan tentang masa depan.
Kisah tentang cinta memang sangat laris di dunia remaja, bahkan hal ini menjadi sektor industri dalam dunia perfilman. Kita tidak bisa menafikkan hal ini, karena kita adalah satu dari seluruh remaja yang terdoktrin indahnya cerita kisah cinta. Dunia remaja adalah dunia percintaan, masa-masa dimana penasaran dan puberitas menbingkat pada usia ini.
Berbagai macam jenis kisah cinta yang di sebarkan ke dunia remaja, senang dan sedih adalah salah satunya. Dimulai dari kisah cinta “romeo & juliet” hingga “habibi dan ainun”. Kepopuleran cerita ini kemudian diangkat ke dunia perfilman. Hal ini membuktikan bahwa kisah-kisah seperti ini adalah hal yang menarik untuk diketahui.
Kisah cinta diatas merupakan kisah cinta yang sduah diketahui oleh masyarakat umum, tetapi ada kisah cinta yang tersebar di setiap masing-masing daerah Indonesia. Memilki kultur yang berargam maka menghasilkan cerita-ceita rakyat yang unik dari masing-masing daerah. Siapa yang tidak kenal dengan kisah cinta siti nurbaya, kisah cinta yang berasal dari sumatera barat. Kisah cinta ini menceritakan tentang perjodohan oleh orang tua. Hingga saat ini ketika kita mendengar kata siti nurbaya, pasti kita ingat bahwa pada saai tu zamannya pernikahan yang selalu dijodohkan. Sedih L. Tentunya masih banyak sekali cerita-cerita masyarakat terutama tentang cinta.
Jambi adalah salah satu provinsi di di Indonesia, dimana kabupaten kerinci adalah satu dari kabupaten yangan ada di Jambi. Kerinci adalah mininya indonesia (sebutan kerinci dari penulis), dikarenakan berbagai macam budaya dan bahasa yang tersebar di bumi sakti alam kerinci. Keunikan dan kecantikannya mampu menghipnotis siapa saja yang berkunjung ke kerinci, maka slogan “jangan mati dulu sebelum ke kerinci” memang benar adanya. Kebanyakan masyarakat luar yang berkunjung ke kerinci akan dibuat ketagihan dengan keasrian dan keunikannya.
Kerinci juga memiliki cerita kisah cinta yang penting untuk kita ketahui, mungkin sebagian orang tidak percaya. Iya, kerinci juga mempunyai cerita keisah cinta yaitu “Sutan Bagindo & Siti Warno”. Kisah ini menceritkan dua orang remaja yang saling mencintai dan menyukai tapi berkahir dengan pilu.
Sutan Bagindo merupakan seorang remaja yang hobinya bermain sepak bola dan Siti Warno adalah seorang remaja yang dicintainya. Memliki perasaan yang sama tentu membuat keduanya jatuh cinta. Namun cinta mereka terhalang oleh orang tua dari Siti Warno. Orang tua Siti Warno tidak merestui keduanya menjalin hubungan.
Siti Warno adalalah orang kaya sedangkan Sutan Bagindo adalah orang miskin. Miskin disini ialah tidak memiliki sawah. Itulah alasan ornag tua dari Siti Warno tidak merestu hubungan keduanya. Menghindari Sutan Bagindo maka orang tua dari Siti Warno kemudian  menjodohkannya dengan pemuda kaya yang memilki sawah.
Saat itu Sutan Bagindo sedang berjalan di sebuah ladang, mendengar cerita tersebut Sutan Bagindo tersentak lansung jatuh seketika dan tidak bergerak (sedih). Begitulah ilustrasi bagaiman keseriusan dan ketulusan cinta Sutan Bagindo. Sulit untuk menemukan laki-laki sperti Sutan Bagindo saat ini. hehehe
Sutan Bagindo yang memiliki hobi main sepak bola kemudian merantau, dan pada saat itu Sutan Bagindo menjadi pemain sepak bola yang hebat. Orang satu kampung dibuat heboh dengan cerita Sutan Bagindo di perantauan. Kemudian masyarakat kampung Sutan Bagindo mengadakan nonton layar tancap untuk menonton aksi Sutan Bagindo bermain bola kaki. Disitulah Siti Warno mulai sedih melihat pujaan hatinya suskses menggapai cita-citanya. Masih memiliki perasaan kepada Sutan Bagindo kemudian menjadi bumerang bagi Siti Warno. Ia hanya bisa pujan hatinya melalui layar tancap, dan pada akhirnya Siti Warno jatuh sakit karena memikirkan Sutan Bagindo sang pujaan hati.
Begitulah sedikit kisah cinta Sutan Bagindo & Siti Warno yang merupakan kisah nyata dari masyarakat kabupaten kerinci.  Hanya sedikit bagian dari cerita yang penulis ketahui, dapat kita simpulkan bahwa perjodohan bukanlah sumber kebahagiaan. Kalimat ini harus diketahui oleh kedua orang tua kita. Mari sama-sama kita perjuangkan cinta sejati. Hehehe
Akhir dari cerita penulis mengucapkan semoga yang membaca cerita ini terhindar dari jurang cinta yaitunya perjodohan. Siti Nurbaya, Sutan Bagindo & Siti Warno adalah kisah dari kepedihan perjodohan.


                                                                                                   



campus.imcnews.id Wahyu Hidayat Mahasiswa Prodi Ilmu Pemerintahan Fisipol Universitas Jambi dan BPH IMKS-JAMBI. Indonesia adalah sal...

campus.imcnews.id

Wahyu Hidayat
Mahasiswa Prodi Ilmu Pemerintahan Fisipol Universitas Jambi dan BPH IMKS-JAMBI.

Indonesia adalah salah satu negara di dunia bahkan mungkin satu-satunya negara yang memiliki keanekaragaman suku, agama, etnis, bahasa, serta kebudayaan yang tersebar luas di ribuan pulau yang terdapat di sepanjang Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Masyarakat yang multikultural atau heterogen membuat bangsa ini mempunyai ciri khas tersendiri dibandingkan dengan negara-negara lain di dunia. Bahkan, kemajemukan ini membuat bangsa Indonesia menjadi percontohan negara yang masyarakatnya toleran terhadap perbedaan.


Kemajemukan dalam hal budaya merupakan ciri utama bangsa Indonesia, hal ini dikarenakan bangsa Indonesia memiliki budaya-budaya yang berbeda di setiap daerahnya. Dan juga di suatu daerah memiliki berbagai macam budaya yang berbeda pula. Inilah yang membedakan dan menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang menarik untuk dikunjungi dan diteliti. Keramahan masyarakat sudah dikenal manca negara hal ini dikarenakan masyarakat Indonesia sudah terbiasa dengan perbedaan dan ini yang menjadikan orang asing yang masuk ke daerah adalah hal yang biasa dan patut untuk dihormati, hal semacam itu merupakan hal yang lumrah dalam perbedaan.

Keanekaragaman budaya di Indonesia dibuktikan dengan adanya pesta ataupun pegelaran budaya di setiap daerah masing-masing yang mempresentasikan bahwasanya kebudayaan tersebut merupakan warisan budaya dari nenek moyang. Misalkan di daerah Provinsi Jambi, Kabupaten Kerinci tepatnya di Semurup, yang mana masyarakatnya masih memegang teguh kebudayaan leluhur nenek moyangnya, hal ini di buktikan dengan digelarnya sebuah tradisi budaya yakni Mandi Balimau setiap lima tahun sekali. Mandi Balimau merupakan salah satu dari berbagai macam kebudayaan daerah lainnya dan merupakan satu dari ribuan bentuk kebudayaan yang tersebar di bangsa yang kaya akan kebudayaan masyarakatnya.

Mandi Balimau adalah salah satu budaya daerah Kabupaten Kerinci tepatnya didaerah Semurup. Budaya ini merupakan budaya asli nenek moyang daerah Semurup yang sudah terjadi beberapa abad yang lalu. Tigo Luhah atau tiga lurah sebutan khas daerah Semurup merupakan salah satu daerah persatuan desa-desa (baca:saat ini) namun sebelumnya Tigo Luhah Semurup merupakan satu daerah yang terintegrasi antara tiga lurah ataupun daerah yang terpusat dalam suatu organisasi yang disebut “Semurup”.

Pada mulanya Semurup terdiri dari dua lurah yakni pertama Lurah Kuto Pudin dan yang kedua adalah Luhah Kuto Jiluang yang terintegrasi dengan nama Kuto Payung Semurup Tinggi, tepatnya di sana awal mula berdirinya teratak atau lahan perumahan warga pada saat itu dan pada akhirnya barulah terbentuk sebuah dusun yang terdiri ari beberapa teratak yang sudah dibangun oleh masyarakat Kuto Payung Semurup tinggi pada saat itu.

Setelah terbentuknya dusun maka secara perlahan masyarakat duo lurah berkembang dengan pesat, maka kemudian akhirnya dibentuklah lurah yang ketiga yang diberi nama lurah mudo (lurah muda). Lurah ini diberi nama lurah mudo karena lurah ini lurah yang terbilang baru dan hasil dari perkembangan masyarakat duo lurah. Dengan demikian Semurup terdapat tiga lurah yang kemudian hingga saat ini Semurup dikenal dengan sebutan istilah adat yakni Tigo Luhah Semurup.
Kemudian, setelah terbentuknya Tigo Luhah barulah dibentuk aturan-aturan adat yang pada saat itu berisikan tentang anjuran membentuk kepala dusun dari ketiga lurah tersebut dengan diberi nama depati untuk masing-masing pemimpin lurah masing-masing.

Dengan hal ini, pada saat itu para tokoh adat dalam hal in para depati membentuk suatu peraturan untuk masyarakat tigo lurah Semurup dengan sumpah yakni Mandi Balimau untuk dilakukan sekali dalam dua tahun yang hingga saat ini masih berlaku sehingga menjadikan Mandi Balimau sebagai budaya Semurup yang harus dilakukan rutin dalam dua tahun.

Mandi Balimau adalah  mandi bersama antara para depati, ninik mamak untuk menyiramkan limau pada mayarakat tigo lurah Semurup. Adapun maksud dan tujuan dari Mandi Balimau ialah “menyambung yang putuh, mematut yang silang, menjernihkan yang keruh dan saling kenal- mengenal”. Artinya ialah mempertemukan seluruh masyarakat tigo lurah agar saling kenal satu sama lain dan kemudian untuk menyatukan agar masyarakat tigo lurah Semurup tahu budaya asal daerah Semurup.

Esensi yang patut kita ketahui dari tradisi Mandi Balimau ialah yang mana jika sebelumnya antar masyarakat terdapat konflik dengan tradisi Mandi Balimau konon bisa mengobati rasa dengki dan iri antar masyarkat ketika setelah disiram dengan air limau. Inilah maksud ataupun hikmah dari tradisi Mandi Balimau yang membudaya di daerah Semurup atau sering disebut Tigo Luhah Semurup.
Keunikan tradisi Mandi Balimau ini menurut penulis harus dipertahankan dan dikembangkan agar nantinya generasi-genarasi muda saat ini mengenal sehingga tradisi ini akan terus berkembang. Harapannya di era globalisasi ini tradisi Mandi Balimau tidak akan terancam dengan arus westernisasi. Hal yang perlu dilakukan ialah mensosialisasikan kepada generasi muda serta menjalankan tradisi ini secara rutin.